Jika Harus Meninggalkan Puasa

June 6, 2017

Ramadhan (1)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah” 183)

Dari ayat di atas, jelas bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang hakikatnya adalah agar kita menjadi insan yang bertaqwa. Namun, kewajiban puasa tidaklah berlaku untuk semua orang, bahkan ada golongan yang terlarang untuk berpuasa. Lalu, siapa saja yang mendapatkan keringanan (rukhsah) untuk meninggalkan puasa dan bagaimana cara mengganti kewajiban puasa tersebut?

Terkait golongan yang boleh meninggalkan puasa, telah disebutkan dalam Al Baqarah ayat 184 yaitu:

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.”

  1. Qadha’ Puasa

Qadha’ yaitu mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar batas waktu tersebut. Adapun orang yang dibebani untuk qadha’ puasa:

  1. Orang yang meninggalkan puasa karena sakit
  2. Orang yang dalam perjalanan atau musafir
  3. Wanita haid atau nifas
  4. Wanita hamil dan menyusui

Untuk menggadha’ puasa Ramadhan dapat dilakukan antara bulan Syawal sampai bulan Sya’ban atau sebelum Ramadhan tahun depannya. Tentu lebih cepat dilakukan, akan lebih baik karena kita tidak pernah tahu apakah Allah SWT masih memberi kita kesempatan sampai Ramadhan tahun berikutnya.

Beberapa pendapat menyatakan bahwa mengqadha’ puasa dengan hari lainnya yang berurutan adalah tidak wajib sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

Terkait ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas ra. Mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqadha’ puasa) tidak berurutan.”

  1. Membayar Fidyah

Fidyah berarti memberi makan seorang miskin, sebagaimana yang terdapat dalam ayat berikut:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184)

Beberapa golongan yang diperbolehkan mengganti puasanya dengan membayar fidyah antara lain:

  1. Orang yang sudah tua renta
  2. Sakit menahun, sakit yang tidak kunjung sembuh dan memberatkannya untuk mengganti puasa di waktu yang lain
  3. Ibu Hamil dan Menyusui

Beberapa pendapat menyatakan bahwa ibu hamil dan menyususi diperbolehkan untuk tidak mengqadha’ puasa tapi dengan membayar fidyah.

Ukuran dalam pemberian fidyah dilihat dari kebiasaan yang layak di masyarakat setempat. Misalnya untuk masyarakat di kota besar di Jakarta, satu kali makan sekitar 50ribu, maka ukuran satu kali fidyah adalah seharga 50 ribu. Menurut Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Shalih Al Fauzan, Fidyah harus berupa makanan, baik makanan matang atau mentah (bahan makanan) dan tidak dapat diganti dengan uang.

Satu hari tidak puasa berarti memberi makan satu orang miskin. Dan waktu penunaian fidyah boleh setiap kali tidak puasa, fidyah ditunaikan, atau bisa pula diakhirkan di hari terakhir Ramadhan lalu tunaikan semuanya.

Semoga amal ibadah kita di Ramadhan tahun ini mendapat berkah dari Allah Ta’ala. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Leave a Comment