Ujian Keimanan dari Peristiwa Isra’ Mi’raj

April 28, 2017

Isra-Miraj-Nabi-Muhammad-2016-Ini-Pesan-Khusus-Jokowi-Untuk-Santri-640x356_waifu2x_photo_noise3_scale_tta_1

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa perjalanan yang  melibatkan jasmani dan ruh Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Palestina dan naik menuju Sidratul Muntaha lalu kembali lagi ke Mekah dalam waktu semalam. Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian, di mana pada tahun ini merupakan “tahun kesedihan” bagi Rasulullah. Ini karena 2 orang yang selalu berada di garda depan dalam membela Rasulullah yaitu Abu Thalib (paman) serta Siti Khodijah (istri) meninggal dunia.

Isra’ adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Arab Saudi ke Masjidil Aqsha di Palestina yang berjarak kurang lebih 1.239 km. Jika ditempuh menggunakan pesawat terbang, kira-kira akan memakan waktu sekitar 2 jam sekali perjalanan.

Lalu Mi’raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju ke Sidratul Muntaha, singgasana Allah SWT, Tuhan Pemilik alam semesta ini. Sidratul Muntaha adalah batas yang menandai akhir dari langit (syurga) ketujuh yang tidak bisa dilalui oleh manusia.

Selama perjalanan dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menyaksikan berbagai peristiwa yang semuanya mengandung hikmah besar bagi umat manusia. Dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman:

“Kami (Allah SWT) tidak menjadikan segala pengalaman dan apa yang engkau lihat di dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj itu kecuali sebagai ujian bagi manusia semuanya.” (Q.S Al Isra’: 60)

Perjalanan Isra’ Mi’raj merupakan ujian keimanan dan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Karena perjalanan ini tidak dapat dterima dengan akal pikiran manusia, tidak dapat dijelaskan dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan, dan tidak terikat oleh hukum alam maupun semesta.

Dengan ditemani oleh malaikat Jibril, Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Pada langit pertama sebelum menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam as dan mengucap salam. Kemudian saat melanjutkan perjalanan ke langit kedua, Rasulullah SAW berjumpa dengan Nabi Isa as dan Nabi Yahya as.

Rasulullah SAW terus melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Nabi Yusuf as di langit ketiga. Beliau bertemu dengan Nabi Idris as. di langit keempat. Lalu, Rasulullah melanjutkan perjalanan menuju langit kelima dan bertemu Nabi Harun as. Di langit keenam, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa as. Lalu sebelum bertemu Allah SWT, di langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim as.

Dalam peristiwa ini, saat bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah sholat wajib 5 waktu dengan total 17 rakaat untuk umatnya. Namun, pada awalnya Allah SWT memerintahkan sholat sebanyak 50 kali untuk umatnya dalam sehari semalam. Rasulullah menerima perintah tersebut dan mendatangi Nabi Musa as. Ketika Nabi Musa as. bertanya apa yang telah diwajibkan untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya, beliau menjawab bahwa Allah SWT telah mewajibkan sholat 50 kali.

Nabi Musa as. berkata bahwa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan sanggup untuk menunaikan kewajiban tersebut dan meminta Rasulullah SAW menghadap Allah SWT untuk keringanan. Lalu, Allah menurunkannya menjadi 40 kali sholat dalam sehari. Rasulullah kembali menemui Nabi Musa as. Dan kejadian pun berulang hingga kewajiban sholat diturunkan menjadi 30 kali, lalu 20 kali, kemudian 10 kali, hingga akhirnya menjadi 5 kali. Ketika Rasulullah SAW menerima perintah sholat 5 kali dengan baik, terdengarlah suara:

“Sungguh Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hambaKu dan Aku akan balas setiap satu kebaikan (sholat) dengan sepuluh balasan (pahala). (HR. Muslim no.162)

Rasulullah SAW turun ke bumi dengan membawa perintah sholat 5 waktu untuk para umatnya dengan kembali mengendarai Buroq. Disebutkan dalam salah satu riwayat Al Bukhari mengenai Buroq ini merupakan seekor binatang yang berwarna putih lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal (persilangan antara kuda dan keledai).

Esok paginya, Rasulullah SAW duduk menyendiri karena ia mengetahui bahwa orang-orang tidak akan mempercayai apa yang telah dialaminya. Benar saja, ketika Rasulullah menceritakan kisah ini kepada umatnya dan kaum Quraisy, mereka tidak mempercayai perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW semalam. Banyak yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW hanya bermimpi.

Namun, Abu Bakar yang merupakan sahabat Rasul menjadi orang pertama yang mempercayai hal ini. Ia berkata,

“Jika Muhammad SAW berkata seperti itu, sungguh dia telah berkata jujur. Sungguh aku tidak ragu sedikitpun apa yang dikatakan Muhammad SAW. Bahkan lebih dari itu, aku membenarkannya atas warta-warta langit yang datang pada waktu pagi ataupun sore hari. (HR. Imam Hakim no. 4407)

Oleh karena itu, Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (Sang Pembenar). Sikap Abu Bakar yang meyakini Isra’ Mi’raj ini mempunyai pengaruh besar terhadap kepercayaan masyarakat Mekah kala itu. Kewajiban sholat 5 waktu bagi umat Muslim pun yang menjadi inti dari perjalanan Isra’ Mi’raj ini pun akhirnya diimani.

Peristiwa Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT atas segala sesuatu begitu besar. Kewajiban kita sebagai umat Muslim tentu meyakininya. Dan memahami bahwa sholat merupakan tiang agama, di mana perkara ini yang akan ditimbang amalannya pertama kali saat Yaumul Akhir nanti.

“Yang pertama kali dihisab (dihitung) dari perbuatan seoarang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya sempurna maka ditulis sempurna, dan jika shalatnya ada kekurangan (Allah) berkata,’Lihatlah, apakah kalian dapati ia melakukan sholat sunnah yang dapat melengkapi kekurangan shalat wajibnya?’ Kemudian semua amalan ibadah yang lain juga dihitung seperti itu.” (HR. Nasai no. 462)

 

Sumber gambar: http://www.flickriver.com

 

 

Leave a Comment