9 Kisah Perempuan Teladan Zaman Rasulullah (Bagian 1)

February 2, 2017
by Office Al Qolam

autumn moments (1)

Belajar menjadi seorang muslim yang kaffah tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang perlu dipelajari agar kita menjadi berilmu dan mampu mengamalkannya. Sehingga menjadi muslim kaffah bukanlah cuma angan. Kisah-kisah perempuan di bawah ini ditulis agar para muslimah dapat meneladani sikap baiknya.

  1. Khadijah Binti Khuwaid

Rasulullah menikahi seorang pengusaha terkenal di Arab. Dialah Khadijah binti Khuwaid. Dalam banyak riwayat, Khadijah adalah istri yang setia pada suaminya.

Dialah orang pertama yang menyatakan beriman dan membenarkan da’wah Rasulullah SAW. Khadijah membela Rasulullah SAW dengan jiwa dan hartanya. Khadijah mendampingi Rasulullah SAW pada masa awal perjuangan da’wah beliau yang sangat berat hingga ajal menjemputnya. Selama Khadijah hidup, Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita selainnya.

Dalam salah satu hadits diriwayatkan bahwa, Rasulullah SAW bersabda:

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar kepadaku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia menyerahkan hartanya untukku ketika orang-orang mencegah hartanya untukku, dan Allah memberiku keturunan lewatnya, sementara yang lainnya tidak mendapatkannya.” (HR. Ahmad)

  1. Aisyah Binti Abu Bakar

Aisyah adalah putri dari sahabat Rasulullah yang paling ia cintai, Abu Bakar. Beliau menjadi istri Rasulullah SAW yang menemani hingga beliau meninggal. Aisyah menjadi istri yang paling banyak mengahabiskan waktu bersama beliau ketika beliau telah menjadi Rasul. Oleh sebab itu, Aisyah banyak meriwayatkan-kan hadits dari Rasulullah, baik dari perkataan beliau maupun kebiasaan-kebiasaannya.

Meskipun Aisyah menjadi istri Rasulullah saat usianya masih belia, namun keteladanannya dalam membangun rumah tangga patut dicontoh. Salah satu kisahnya dalam sejarah dikenal dengan istilah Haditsul Ifhi (berita dusta).

Kisah ini bermula saat Rasulullah dan pasukannya pulang perang Bani Mustaliq. Aisyah yang ikut serta dalam rombongan, kehilangan kalung yang ia pinjam dari saudaranya. Aisyah pun mencari kalung tersebut dan rombongan kaum muslimin meneruskan pulang ke Madinah. Aisyah tertinggal rombongan. Ia berharap rombongan kembali setelah menyadari bahwa ia tertinggal.

Saat menunggu di bawah pohon, seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu’aththal lewat dan menawarinya menaiki hewan tunggangannya dan ia akan menuntunnya. Beberapa hari setelah sampai di Madinah, Aisyah dituduh telah selingkuh. Fitnah ini pun menyebar luas hingga Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka terkait hal ini.

Hingga turunlah wahyu dari Allah SWT berikut

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”  (QS. An-Nur: 11)

  1. Fatimah Binti Rasulullah

Tidak semua yang kita dengar harus kita sampaikan kepada orang lain. Apalagi jika hal tersebut bersifat rahasia. Kisah Fatimah, putri Rasulullah dalam menjaga rahasia patut menjadi teladan bagi kita sebagai muslimah. Nah, seperti apa kisahnya?

Ketika sakit yang diderita Rasulullah SAW semakin berat, istri-istri beliau berkumpul di sekelilingnya. Saat itu Fatimah datang menjenguknya. Setelah mempersilakan duduk putrinya, beliau membisikan sesuatu kepada Fatimah. Pada bisikan pertama Fatimah menangis, lalu kemudian ia tertawa setelah bisikan kedua.

Ketika Fatimah beranjak untuk pulang, Aisyah menanyainya apa yang telah disampaikan Rasulullah SAW sehingga ia menangis lalu tertawa. Namun, Fatimah dengan berkata, “Saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW.”

Setelah wafatnya Rasulullah, Aisyah kembali mempertanyakan hal tersebut. Akhirnya Fatimah pun menjawab, “Kalau sekarang, bolehlah,” seraya ia melanjutkan:

“Pada bisikan pertama, Rasulullah menyampaikan bahwa Jibril biasanya setiap tahun mengulang bacaan Al Qur’an sebanyak sekali kepadanya, tapi tahun ini dia melakukannya dua kali. Hal tersebut beliau yakini sebagai pertanda ajalnya yang telah dekat, maka beliau berpesan kepadaku agar bertaqwa dan bersabar, karena beliau akan mendahuluiku, mendengar itu aku menangis. Kemudian beliau menambahkan bahwa akulah pemimpin wanita umat ini, dan akulah orang yang paling cepat menyusul beliau, mendengar itu aku tertawa.” (HR. Muslim)

Beberapa bulan kemudian Fatimah wafat menyusul Rasulullah SAW.

  1. Shafiyyah Binti Abdul Muthalib

Ketika keamanan bersama terancam, seorang perempuan harus mampu mengambil tindakan tegas. Inilah yang diajarkan oleh Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Shafiyyah adalah bibi Rasulullah SAW.

Peristiwa ini terjadi di penampungan yang berisi anak-anak dan perempuan muslimah, saat perang Ahzab terjadi. Suatu malam, terlihat seorang laki-laki yang mengendap-endap di sekitaran penampungan. Kedatangannya diketahui oleh Shafiyyah. Usut punya usut, laki-laki tersebut dikirim kelompoknya dari Bani Quraizah untuk memata-matai penampungan perempuan muslimah tersebut.

Shafiyyah gelisah melihat gelagat yang tidak baik laki-laki tersebut. Segera ia ikat bajunya dan ia ambil sebongkah kayu besar. Ia beranikan diri untuk memukul laki-laki tersebut hingga tersungkur di atas tanah.

Melihat temannya diperlakukan demikian, kelompok Bani Quraizah beranggapan bahwa penampungan perempuan muslimah dijaga ketat. Akhirnya hal tersebut mengurungkan niat mereka untuk melakukan kejahatan terhadap para perempuan muslimah di penampungan tersebut.

  1. Ummu Sulaim

Ummu Sulaim merupakan istri dari Abu Thalhah. Keduanya merupakan sahabat Rasulullah SAW. Ummu Sulaim dikisahkan sebagai salah satu perempuan yang tabah.

Cerita ketabahan Ummu Sulaim berawal ketika suatu saat anaknya sakit. Namun karena suatu hal, Abu Thalhah harus meninggalkannya untuk beberapa hari. Ketika Abu Thalhah pergi, anaknya meninggal dunia. Namun, Ummu Sulaim tidak memberitahukan kabar ini kepada suaminya. Ia hanya berpesan pada kerabatnya untuk tidak menceritakan kepergian anaknya kepada Abu Thalhah. Karena ia sendiri yang akan menceritakannya.

Sepulangnya Abu Thalhah ke rumahnya, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuknya. Selesai makan, Ummu Sulaim berdandan melebihi malam-malam sebelumnya. Akhirnya mereka berdua melakukan hubungan suami istri. Selesai itu, Ummu Sulaim baru menceritakan bahwa anaknya telah meninggal dunia.

Pagi itu juga Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW untuk mengadukan perlakukan istrinya. Namun Rasulullah SAW justru bertanya:

“Apakah malah itu kalian sempat berhubungan?”

“Ya,” jawab Abu Thalhah

“Semoga Allah memberkahi malam kalian itu,” doa Rasulullah SAW.

Ketabahannya dalam menghadapi cobaan, mendapat ridha dari Rasulullah SAW. Dan beliau pun mendoakan keberkahan pada pasangan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Beberapa waktu kemudian, Ummu Sulaim diketahui hamil. Diriwayatkan anak yang diberi nama Abdullah tersebut memiliki sembilan anak yang semuanya hafal Al Qur’an.

 

9 Kisah Perempuan Teladan Pada Zaman Rasulullah (Bagian 2)

Leave a Comment