Mengontrol Emosi: Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

March 9, 2017
by alqolam

 

Sungguh sesudah

Menurut KBBI, emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Definisi lainnya yaitu keadaaan dan reaksi psikologis dan fisiologis. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan tak ada yang salah dengan emosi.

Emosi adalah perasaan naluriah yang merupakan respon terhadap suatu hal. Namun, ini menjadi bermasalah jika kita terlalu sering merespon sesuatu dengan emosi yang berlebihan. Apalagi jika emosi ini adalah emosi-emosi negatif seperti marah, kesal, jengkel, sedih, dan sebagainya.

Emosi negatif seperti marah adalah jalan bagi syetan untuk menyesatkan manusia. Kadang saat kita marah, kita cenderung untuk berbuat sesuatu tanpa memikirkan kembali akibatnya.

Secara umum, beberapa psikolog menggarisbawahi bahwa mengontrol emosi sebagai salah satu kunci kesuksesan kita. Dalam ilmu psikologi dikenal sebagai Emotional Quotient (kecerdasan emosional), di mana mengontrol emosi sebagai bagian penting untuk melengkapi kecerdasan lainnya seperti Intelligence Quotient (kecerdasan intelijen) dan Spiritual Quotient (kecerdasan spiritual).

Ledakan emosi yang berlebihan dapat mengganggu hubungan kita dengan orang lain, bahkan dapat mengganggu pekerjaan. Nah, sebab itu pengendalian emosi berhubungan dengan kesuksesan. Lalu, bagaimana kita memastikan bahwa diri kita mampu mengendalikan emosi dengan bijak?

Langkah 1: Mengakui dan Menerima Bahwa Anda Mampu Mengontrol Emosi

Yang pertama dan menjadi dasar adalah kita butuh meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita mampu mengontrol emosi kita. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas semua emosi yang ada dalam diri kita. Tentu saja, ada faktor eksternal yang memicu emosi, misal kejadian yang tak terduga, atau masalah pekerjaan. Ini semua tentu di luar kendali kita. Namun, yang masih dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita bereaksi terhadap semua kejadian yang memicu emosi tersebut.

Ingat bahwa merespon sesuatu dengan emosi yang berlebih hanya akan membuang energi dan waktu kita. Biasakan untuk tetap santai, mengendalikan kata-kata, nada, dan intonasi saat menghadapi situasi yang sulit. Kebiasaan mengontrol emosi dapat membuat kita bertindak lebih baik dalam situasi kritis.

“Jangan marah, bagimu Syurga.” (HR. Thabrani)

Langkah 2: Kenali Penyebab Ledakan Emosi Kita

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab ledakan emosi kita, antara lain:

Cinta dunia

Mengendalikan emosi adalah penting. Sama pentingnya dengan melihat lebih dekat pada gaya hidup kita. Kita perlu mengenali gaya hidup kita selama ini. Kecintaan kita pada materi duniawi dapat menciptakan rasa takut kehilangan dan depresi. Jadi kita perlu mengenal gaya hidup kita, mengenali dan mampu membedakan keinginan dan kebutuhan kita, serta menghindari untuk mengumbar sesuatu adalah penting untuk diterapkan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Ma’un berikut:

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan) yang berguna.” (QS. Al Ma’un: 4-7)

Tubuh kekurangan asupan gizi

You are what you eat. Pola makan yang buruk dapat menyebabkan suasana hati yang buruk. Jika terlalu banyak makan makanan yang kurang sehat, otak kita dapat memberikan respon yang salah pada tubuh. Ini dikarenakan makanan yang tidak sehat tidak dapat memberikan otak asupan yang tepat.

Kurang tidur

Agitasi merupakan reaksi umum untuk kurang tidur. Begadang membuat tubuh kita lelah dan darah susah menyerap asupan-asupan makanan. Hal ini dapat merusak kestabilan emosi dan pengendalian pikiran kita? Pernahkah Anda perhatikan bahwa pikiran terakhir sebelum tidur adalah salah satu dari hal pertama yang Anda ingat ketika bangun? Nah, otak kita bekerja sepanjang malam mengolah hal tersebut ketika kita tidur. Sehingga saat terbangun, kita akan mengingat hal tersebut.

Oleh sebab itu, tanamkan pikiran positif, berdoa, dan memanjat syukur pada Allah penting dilakukan menjelang terlelap. Hindari menonton film horor atau pembicaraan hingga larut.

Langkah 3: Bertindak Positif

Yakinkan diri sendiri dan kendalikan pikiran kita

Yakinkan pada diri sendiri bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Penolong dengan mengingat firman-Nya berikut ini:

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah: 6)

Kontrol pikiran kita. Cobalah berpikir positif dan buang jauh-jauh pikiran negatif yang ada. Yakinlah bahwa kita tak semestinya menghabiskan waktu kita untuk memikirkan hal yang bagi Allah SWT adalah sangat mudah. Jika kita masih tidak dapat berpikir positif ketika menghadapi sesuatu, berpikirlah bahwa ini merupakan kesempatan bagi kita untuk berlatih kesabaran dan tawakkal.

Untuk membantu menghalau pikiran-pikiran buruk, coba lafalkan Surah Al Falaq dan Surah An-Nas. Insya Allah kita akan terbantu untuk tetap percaya bahwa ada sisi baik di setiap keburukan yang datang.

Ingat Allah

Jika setelah mengenal emosi, kita tahu bahwa kita akan emosi ketika menghadapi peristiwa-peritiwa tertentu, cobala untuk tepat mengingat Allah SWT dengan berdzikir atau melafalkan surah-surah Al Quran. Misalnya, kita akan emosi ketika menunggu orang terlalu lama, kita bisa membaca kalimat tauhid saat menunggu orang. Atau ketika marah meledak, kita bisa melafalkan Surah Al Ikhlas. Nah, ketika bahagia memuncak, kita bisa melakukan sujud syukur dan membaca Ayat Kursi. Kita juga dapat melatih diri untuk melakukan taubat ketika kita merasa tertekan dan sakit.

Memaafkan

Cara terbaik untuk berdamai dengan emosi kita dengan cara mengikhlaskan dan memaafkan, baik untuk orang lain sebagai faktor internal yang memicu emosi ataupun diri kita sendiri. Memaafkan diyakini ampuh meredam emosi kita. Ini sesuai dengan ayat berikut:

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy Syura: 37)

Ikuti Sirah Nabi

Rasulullah SAW memiliki kepribadian yang paling stabil dalam sejarah umat manusia. Keseimbangan dalam menjaga emosi seperti yang tertuang dalam berbagai riwayat, tak terbantahkan. Cara Rasulullah SAW berurusan dengan banyak hal adalah teladan bagi umat muslim. Salah satunya ketika memenangkan perang Badar dan kembali ke rumah, Rasulullah SAW diberitahu bahwa putrinya meninggal. Beliau tidak menampakan kesedihannya dan membiarkan umat muslim merayakan kemenangannya. Begitu juga saat Fathul Makkah, beliau tidak terbawa balas dendam atau kegembiraan. Beliau justru mengingat Allah SWT dan memohon agar Allah SWT memberikan pengampunan pada setiap orang.

Kelola Waktu

Banyak ditemukan, orang yang kurang bisa menngelola waktu, diburu-buru tenggat waktu, sangat rentan akan stres dan depresi. Perencanaan yang tepat dan mengatur waktu sebaik-baiknya adalah cara jitu untuk menjaga emosi tetap terkontrol. Jangan terbiasa untuk menunda pekerjaan. Sadari bahwa kesempatan untuk melakukan sesuatu tanpa menundanya adalah berkah Allah Ta’ala.

Bicarakan

Jika mengontrol emosi dengan cara-cara di atas tidak berhasil, bicaralah. Komunikasikan hal tersebut pada orang-orang di sekitar kita dengan bijak dan sopan. Sehingga mereka tahu bagaimana perasaan kita. Tapi, tentu kita perlu berhati-hati dalam memilih kata dan cara terbaik dalam menyampaikannya. Lebih baik hindari situasi atau orang yang dapat lebih memicu stres kita. Namun, jika dalam kondisi yang tak dapat dihindari yang dapat memicu emosi, terima situasi ini dan anggap bahwa semua ini nagian dari rencana Allah Ta’ala. Perbanyak bersyukur agar hati kita lebih lapang sehingga emosi dapat kita kontrol.

 

Sumber:

http://kbbi.web.id/emosi

http://productivemuslim.com/managing-our-emotions/

 

About

Leave a Comment